Resmi Diberlakukan, SNI G2R Tetrapreneur Jadikan Gotong Royong sebagai Kekuatan Ekonomi Nasional dan Global
Jakarta, Poskini.com — Pedoman Mutu Ekosistem Wirausaha diharapkan menjadi langkah awal yang monumental bagi perluasan implementasi ekosistem kewirausahaan berbasis gotong royong di Indonesia. SNI ini bukan sekadar dokumen standar, melainkan sebuah instrumen penting guna membangun keterhubungan antarpelaku dalam ekosistem ekonomi, mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat luas. Hal ini disampaikan Founder, Konseptor, dan Tenaga Ahli G2R Tetrapreneur, Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D. dalam forum diskusi di Jakarta baru-baru ini.
"Ke depan, tantangan utama yang dihadapi adalah memastikan agar SNI G2R Tetrapreneur dapat disosialisasikan, dipahami, dan diimplementasikan secara luas. Implementasi tersebut ditargetkan mampu memperkuat jejaring usaha, meningkatkan nilai tambah produk lokal, membuka akses pasar, serta mendorong lahirnya produk-produk unggulan yang menjadi ikon Indonesia," tambahnya.
Sekretaris Komite Teknis (Komtek) 03–13 Manajemen Ekonomi Kolaboratif dari Unsur Pemerintah, Ir. Rr. Aisyah Gamawati, M.M., memaparkan bahwa perjalanan G2R Tetrapreneur hingga menjadi SNI merupakan proses panjang yang berawal dari pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi serta implementasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Menariknya, proses ini semakin kuat berkat semangat kolaborasi Ikatan Pimpinan Tinggi Madya Perempuan Indonesia di Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang berkomitmen mendorong pemberdayaan dan standardisasi. "Ini menunjukkan bahwa proses standardisasi tidak berhenti pada lahirnya sebuah dokumen, tetapi harus dilanjutkan dengan edukasi, pendampingan, dan implementasi di lapangan," ujar Aisyah, mencontohkan penguatan pemahaman standardisasi yang telah dilakukan di Kawasan Transmigrasi Mutiara, Muna. Ia berharap SNI ini mampu menerjemahkan nilai gotong royong menjadi kekuatan ekonomi yang nyata, berkualitas, dan berkelanjutan.
Selanjutnya, Rika Fatimah menegaskan bahwa SNI ini merupakan inovasi kebijakan nasional wirausaha bergotong royong yang memerlukan kolaborasi sistemik. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM sekaligus Wakil Ketua Komtek 03–13 ini menyampaikan bahwa pengakuan praktik manajemen mutu ini diharapkan dapat menginspirasi praktik wirausaha melalui nilai-nilai Ekonomi Pancasila. "Pengambilan keputusan melibatkan Ketuhanan, Kemanusiaan, Kesatuan, Kebijaksanaan dan Keadilan perlu dipahami secara luas hingga menjadi pemahaman nasional yang menyentuh pengambilan keputusan pada berbagai aspek baik di pemerintahan hingga ke masing-masing individunya dapat menginspirasi hingga di tingkat global," jelas Rika.
Bhenu