Get Poskini App with new looks!
Mode Gelap
POSKINI.com
Advertisement
More news: Poskini TV Radio Streaming Indeks Berita

Gen Z Kembali ke "Amplop Kertas": Lawan Arus Kemudahan Digital

J. Saragih
J. Saragih
Gen Z Kembali ke "Amplop Kertas": Lawan Arus Kemudahan Digital
Bhenu Artha, Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram

Yogyakarta, Poskini.com — Pernahkah Anda mendapati diri Anda terbangun di tengah malam, iseng menggulir layar ponsel, membuka aplikasi e-commerce, dan tanpa sadar menekan tombol "bayar" untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu Anda butuhkan? Atau mungkin, Anda sering merasa heran saat menatap riwayat transaksi di akhir bulan; kemana perginya seluruh gaji yang sepertinya baru saja mampir di rekening minggu lalu? Jika Anda pernah merasakan hal-hal tersebut, Anda sama sekali tidak sendirian. 

 

Di era di mana segala sesuatu bisa dibeli hanya dengan memindai kode QR atau melakukan otentikasi wajah, uang terasa semakin tidak nyata. Kemudahan ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan kepraktisan yang luar biasa. Namun di sisi lain, ia diam-diam melucuti pertahanan psikologis kita dalam mengelola keuangan.

 

Di tengah gempuran tren pembayaran serba digital ini, muncul sebuah fenomena yang sangat menarik dan mungkin terasa paradoksal. Anak-anak muda, khususnya Generasi Z (Gen Z) yang lahir dan besar bersama internet, justru mulai mempopulerkan kembali sebuah metode menabung yang terkesan sangat "jadul" dan konvensional. Di platform media sosial seperti TikTok, tren ini dikenal dengan sebutan cash stuffing. Sebuah cara mengatur keuangan yang pada dasarnya memaksa penggunanya untuk kembali menyentuh lembaran uang kertas. Tren cash stuffing ini menggunakan media fisik seperti buku binder atau plastik ziplock dan amplop. Sederhananya, seseorang akan membagi uang tunai ke dalam beberapa pos pengeluaran setiap bulannya, seperti untuk makan, transportasi, hiburan, dan belanja, lalu memasukkannya ke dalam amplop yang berbeda-beda.

 

Cash stuffing adalah sebuah pemberontakan diam-diam, sebuah mekanisme pertahanan diri psikologis yang diadopsi oleh anak muda di tengah ketidakpastian ekonomi. Mari kita lihat realitas hari ini. Bank Indonesia mencatat bahwa volume transaksi pembayaran digital telah mencapai angka yang fantastis, yakni 4,79 miliar transaksi hanya pada bulan Januari 2026, yang mana angka ini tumbuh sebesar 39,65 persen secara tahunan. Yang lebih mencengangkan, transaksi menggunakan QRIS meroket hingga tumbuh 131,47 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Data ini diperkuat dengan fakta bahwa hingga Juni 2025, jumlah merchant*QRIS telah mencapai 39,3 juta dengan total pengguna menyentuh 57 juta orang. Kemudahan tanpa gesekan (frictionless) ini memang sejalan dengan perilaku generasi muda yang memiliki mobilitas sangat tinggi.

 

Namun, dari sudut pandang psikologi konsumen, hilangnya gesekan atau friction dalam proses pembayaran adalah sebuah jebakan. Ketika kita berbelanja menggunakan uang digital, entah itu dompet elektronik, kartu debit, atau layanan PayLater, otak kita tidak memproses transaksi tersebut sebagai sebuah "kehilangan". Transaksi yang hanya membutuhkan beberapa sentuhan di layar ponsel membuat godaan belanja menjadi sangat sulit untuk ditahan.

 

Inilah alasan mengapa tren cash stuffing menjadi semacam antitesis yang masuk akal. Di saat masyarakat Indonesia dan generasi muda semakin terbiasa hidup tanpa uang tunai (cashless), cash stuffing menawarkan pendekatan visual yang nyata. Metode ini memungkinkan penggunanya untuk melihat dengan mata kepala sendiri seberapa banyak sisa uang yang masih mereka miliki untuk setiap kebutuhan. 

 

Ketika uang tunai di dalam satu amplop habis, maka kegiatan belanja untuk kategori tersebut harus benar-benar dihentikan sampai periode anggaran berikutnya tiba. Batasan ini terasa jauh lebih absolut dibandingkan notifikasi sisa saldo di layar gawai Anda.

 

Mengapa memegang uang fisik terasa berbeda dengan menggesek kartu atau memindai QRIS? Untuk menjawab ini, kita harus menengok pada literatur akademik di bidang behavioral economics. Jauh sebelum TikTok ada, para akademisi telah memelajari respons emosional manusia terhadap uang.

 

Konsep yang paling mendasar untuk menjelaskan fenomena cash stuffing ini adalah Pain of Paying (Rasa Sakit saat Membayar). Konsep ini dipublikasikan oleh Dražen Prelec dan George Loewenstein (1998) dalam jurnal Marketing Science dengan judul The Red and the Black: Mental Accounting of Savings and Debt.

 

Prelec dan Loewenstein menemukan bahwa manusia pada dasarnya mengalami penderitaan psikologis atau emosi negatif (rasa sakit) ketika mereka harus menyerahkan uang mereka untuk membayar sesuatu. Rasa sakit ini berfungsi sebagai alarm alami atau mekanisme regulasi diri (self-regulation) yang mencegah kita menghabiskan sumber daya secara ugal-ugalan. Menariknya, tingkat "rasa sakit" ini sangat bergantung pada metode pembayaran yang digunakan.

 

Ketika Anda melakukan cash stuffing, Anda memegang lembaran uang seratus ribu rupiah. Saat Anda memberikannya ke kasir, Anda melihat uang itu berpindah tangan. Ada wujud fisik yang hilang dari dompet Anda. Otak Anda memproses ini sebagai sebuah kehilangan aset secara real-time, sehingga menimbulkan rasa sakit secara emosional. Sebaliknya, instrumen pembayaran seperti kartu kredit, kartu nirsentuh (contactless), dan dompet digital mengaburkan visibilitas hilangnya sumber daya ini.

 

Teori ini didukung kuat oleh penelitian Dilip Soman (2001) yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research dengan judul Effects of Payment Mechanism on Spending Behavior: The Role of Rehearsal and Immediacy of Payments. Dalam risetnya, Soman menjelaskan konsep efek pemisahan (decoupling effect), dimana pembayaran digital mengurangi koneksi psikologis antara kesenangan berbelanja dan rasa sakit akibat kehilangan uang. Uang digital memisahkan tindakan konsumsi dari persepsi hilangnya kekayaan. Inilah mengapa saat kita memindai QRIS, kita tidak merasa sedang menghabiskan uang; kita merasa seolah-olah sedang bermain game atau sekadar melakukan rutinitas ketuk layar biasa.

 

Dengan mempraktikkan cash stuffing, Gen Z sebenarnya sedang secara sadar "menyakiti" diri mereka sendiri (dalam konotasi positif). Mereka menghidupkan kembali alarm pain of paying yang telah dimatikan oleh teknologi finansial masa kini. Mereka menyadari bahwa tanpa wujud fisik, uang sangat mudah menguap. Mengubah saldo digital menjadi tumpukan uang kertas di dalam amplop adalah cara yang brilian untuk mengembalikan batasan-batasan psikologis tersebut.

 

Lantas, bagaimana kita menyikapi tren ini? Apakah kita harus kembali total menggunakan uang tunai dan meninggalkan teknologi, atau tetap dalam jerat kemudahan digital yang membuat boros?

 

Kita bisa memodernisasi konsep ini menjadi Digital Cash Stuffing. Banyak aplikasi perbankan digital hari ini telah mengadaptasi teori mental accounting secara langsung ke dalam produk mereka (seperti fitur Kantong/Pocket di aplikasi bank). Pengguna dapat mengadopsi konsep dasar dari cash stuffing, yakni membagi-bagi uang sesuai tujuannya, namun melakukannya di dalam aplikasi digital.

 

Dengan cara ini, pengguna tetap bisa menetapkan batas maksimal pengeluaran dan mendapat manfaat bunga simpanan, tanpa harus menanggung risiko hilangnya uang tunai. Kuncinya adalah menciptakan "gesekan buatan" atau artificial friction. Misalnya, ketika saldo di saku digital "Kopi & Hiburan" habis, berjanjilah pada diri sendiri untuk tidak memindahkan saldo dari saku "Tabungan Utama". Jika kartu debit Anda memiliki fitur untuk menonaktifkan transaksi online, matikan fitur tersebut dan nyalakan hanya saat Anda benar-benar harus membayar sesuatu. Buat agar proses berbelanja sedikit "menyulitkan".

 

Di era di mana segalanya serba virtual, kadang-kadang mengembalikan hal yang esensial ke bentuk fisiknya adalah satu-satunya cara bagi kita untuk tetap berpijak pada realitas.

 

Bhenu

Komentar (0)

Berita Terkait

 
Poskini Network
Jaringan media berita daerah Poskini.com. Klik lebih lanjut