Get Poskini App with new looks!
Mode Gelap
POSKINI.com
Advertisement
More news: Poskini TV Radio Streaming Indeks Berita

Amnesia Finansial: Saat Kemudahan Transaksi Digital Membuat Kita Lupa Rasanya Kehilangan Uang

J. Saragih
J. Saragih
Amnesia Finansial: Saat Kemudahan Transaksi Digital Membuat Kita Lupa Rasanya Kehilangan Uang
Fajar Santoso Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta

Surakarta, Poskini.com — Pernahkah Anda menyadari betapa mudahnya kita mengeluarkan uang hari ini tanpa sedikit pun rasa berat hati? Di era ekonomi digital saat ini, peralihan dari uang tunai ke ekosistem nirkabel, mulai dari pemindaian QRIS di pasar tradisional, pembelian koin di dalam game seluler, hingga layanan langganan otomatis (auto-subscription), diam-diam telah mengubah cara kerja otak kita dalam memproses pengeluaran. Kemajuan teknologi finansial ini melahirkan apa yang disebut oleh para ahli ekonomi perilaku sebagai pembayaran tanpa gesekan (frictionless payment), sebuah fenomena yang bukan sekadar soal efisiensi teknologi, melainkan pergeseran psikologis yang sangat mendalam.

 

Jika kita menengok ke belakang, mengeluarkan lembaran uang dari dompet selalu meninggalkan kesan tersendiri. Dalam dunia psikologi ekonomi, ada konsep bernama Pain of Paying atau "rasa sakit saat membayar" yang diperkenalkan oleh Prelec dan Loewenstein pada tahun 1998, yakni sebuah respons emosional negatif yang secara alami muncul ketika seseorang harus merelakan sumber daya berharganya pergi. Namun, di tengah segala kemudahan transaksi modern, otak kita ternyata mengembangkan sebuah perisai baru bernama psychological decoupling. Secara sederhana, ini adalah mekanisme mental yang memutus ikatan emosional antara aktivitas membayar dan aktivitas mengonsumsi. Lewat pemisahan mental inilah kita bisa menikmati manfaat suatu barang atau jasa dengan tenang, tanpa harus merasa terbebani oleh biaya yang baru saja dikeluarkan.

 

Mengapa otak kita melakukan hal tersebut? Jawabannya berkaitan erat dengan upaya kita menghindari buyer’s remorse atau penyesalan pasca-pembelian. Merujuk pada pemikiran Festinger (1957), penyesalan setelah membeli sesuatu sebenarnya adalah bentuk disonansi kognitif yang kerap dipicu oleh rasa bersalah akibat belanja yang impulsif atau berlebihan. Agar ego kita tetap terlindungi dan kepuasan batin tetap terjaga meski baru saja melakukan pengeluaran yang tidak rasional, psychological decoupling bekerja dengan cara menunda atau mengaburkan kesadaran kita akan biaya tersebut. Hasilnya adalah sebuah kondisi yang bisa kita sebut sebagai "amnesia finansial".

 

Amnesia finansial ini sangat mudah kita temukan dalam keseharian karena pembayaran non-tunai memang membuat transaksi terasa kurang "nyata" secara fisik, sebagaimana pernah dijelaskan oleh Soman (2001). Ambil contoh yang paling ekstrem: membeli mata uang virtual seperti Top-up Diamond atau melakukan Gacha di dalam game. Begitu uang tunai diubah wujudnya menjadi koin virtual, nilai asli dari uang tersebut seolah mengalami penurunan makna secara psikologis di benak kita. Ada jarak lebar yang tercipta antara tindakan menekan tombol beli dan kesadaran bahwa saldo tabungan kita sebenarnya sedang terkuras. Hal serupa terjadi pada sistem auto-subscription di berbagai platform streaming. Karena tidak ada tindakan aktif untuk membayar dari bulan ke bulan, biaya langganan tersebut menjadi terasa "tidak terlihat". Tanpa adanya kesadaran saat membayar, sinyal rasa sakit di otak tidak ikut menyala, sehingga potensi munculnya rasa menyesal pun otomatis teredam.

 

Inilah "Sihir Digital" dalam gaya konsumsi modern kita. Kehadiran QRIS memang menawarkan kepraktisan luar biasa, tetapi di sisi lain ia juga memangkas transparansi pembayaran (transparency of payment) secara drastis. Tidak seperti uang fisik yang terlihat menipis di lipatan dompet, saldo digital hanyalah deretan angka yang berganti di layar ponsel. Studi dari Shah dan rekan-rekannya (2016) bahkan menyoroti bahwa metode pembayaran yang kurang transparan seperti ini cenderung melemahkan kendali diri seseorang dan mendorong pengeluaran yang bersifat hedonis. Pengeluaran tidak lagi dirasakan sebagai sebuah kehilangan, melainkan sekadar pertukaran informasi digital yang steril, yang pada akhirnya membuat kita merasa bebas dari beban moral saat berbelanja secara impulsif.

 

Lebih jauh lagi, ketika berhadapan dengan pembelian besar menggunakan kartu kredit atau fitur PayLater, mekanisme pertahanan ini membantu kita melakukan rasionalisasi demi menjaga ketenangan pikiran. Melalui psychological decoupling, kita bisa memusatkan seluruh perhatian pada kesenangan dan sisi positif dari barang yang dibeli, sembari mengasingkan beban biayanya ke dalam ruang mental yang terpisah. Dengan begitu, kita tetap bisa mempertahankan citra diri sebagai "pembeli yang cerdas", walaupun kenyataannya saldo di rekening sedang menipis.

 

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa psychological decoupling bukanlah sekadar efek samping yang tak disengaja dari kemajuan teknologi finansial, melainkan mekanisme pertahanan aktif yang digunakan konsumen untuk menghindari stres psikologis saat mengeluarkan uang. Dengan memutus mata rantai antara rasa sakit saat membayar dan kenikmatan saat mengonsumsi, ekosistem digital seperti QRIS dan mata uang virtual memang berhasil membuat kita berbelanja lebih banyak dengan rasa penyesalan yang jauh lebih sedikit. Namun, di balik kenyamanan semu itu, "amnesia finansial" ini menyimpan risiko jangka panjang yang nyata bagi literasi keuangan dan stabilitas ekonomi kita masing-masing.

 

Bhenu

Tags:

Komentar (0)

Berita Terkait

 
Poskini Network
Jaringan media berita daerah Poskini.com. Klik lebih lanjut